"HARAP MEMBOOKING MINIMUM 1 BULAN SEBELUM HARI H UNTUK PAKET REGULER & MINIMUM 2-6 BULAN SEBELUM HARI H UNTUK PEMESANAN DALAM KUANTITAS BESAR (ROMBONGAN) BAIK ITU PAKET REGULER DIATAS 10 ORG / PAKET KARYAWAN / PAKET STUDYTOUR / PAKET WEEKEND KARYAWAN / PAKET STUDY TOUR WEEKEND"

Sunday, June 6, 2010

Sumber Daya Alam Hayati Karimunjawa


Kupu - Kupu

Taman Nasional Karimunjawa yang mempunyai lima tipe ekosistem yang lengkap masih menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang belum terdata secara lengkap. Kawasan darat Taman Nasional Karimunjawa yang meliputi hutan hujan tropis dataran rendah dan hutan mangrove merupakan habitat berbagai flora dan fauna termasuk di dalamnya kupu-kupu.

Secara ekologis kupu-kupu yang merupakan anggota filum serangga(arthropoda) mempunyai peranan yang besar di dalam ekosisistem . Peran utama kupu-kupu dalam ekosistem adalah dalam penyerbukan tanaman. Kupu-kupu juga merupakan salah satu indikator perubahan kondisi lingkungan. Apabila terjadi perubahan kondisi habitat kupu-kupu maka akan mempengaruhi pula kehidupan kupu-kupu yang dimungkinkan karena tidak tersedianya pakan bagi kupu-kupu. Kupu-kupu di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa merupakan sumber genetis atau plasma nutfah yang sangat berharga yang ada di Indonesia sehingga harus dipertahankan keberadaannya. Di sisi lain, keindahan corak dan warna kupu-kupu merupakan daya tarik bagi wisatawan terutama bagi kegiatan wisata alam (ecotourism). Secara ekonomis, beberapa jenis kupu-kupu bahkan sudah ditangkarkan untuk ditangkarkan secara komersial.

Berdasarkan survei pendahuluan LIPI tahun 2001 Taman Nasional Karimunjawa mempunyai 23 jenis kupu-kupu dari 8 famili. Beberapa jenis yang ada di Taman Nasional Karimunjawa adalah: Graghium agamemon, Nyctalemon zampa, Erionnota thrax, Udapes folus, Neptis leucoporos, Hypolymnas bolina, Graphium doson. Jenis-jenis kupu-kupu endemik yang berada di Karimunjawa adalah Euploea crameri karimondjawensis dan Idea leuconoee karimondjawae.

Upaya pengelolaan fauna kupu-kupu yang dilakukan Taman Nasional Karimunjawa berbasiskan pada perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan lestari. Upaya perlindungan dilakukan untuk memastikan keberadaan fauna kupu-kupu di dalam kawasan taman nasional. Upaya ini dibarengi dengan upaya pengawetan sehingga diharapkan keberlanjutan daya dukung habitat bagi kelangsungan hidup kupu-kupu. Keberadaan kupu-kupu juga mendukung pemanfaatan lestari kawasan Taman Nasional Karimunjawa dimana satwa serangga ini merupakan salah satu daya tarik wisata. Sebagai upaya lanjutan, saat ini Taman Nasional Karimunjawa telah melakukan identifikasi dan inventarisasi fauna kupu-kupu yang hidup di kawasan Taman Nasional Karimunjawa yang mencangkup ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah di Pulau Karimunjawa dan hutan mangrove di Pulau Kemujan.



Ikan Hias

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2006 di Karimunjawa menghasilkan data spesies ikan sebanyak 353 spesies yang termasuk kedalam 117 genus dan 43 famili. Famili yang dominan antara lain Pomacentridae (71 spesies), Labridae (52 spesies), Scaridae (27 spesies), Chaetodontidae(25 spesies), Serranidae (24 spesies), Acanthuridae (16 spesies), Nemiptheridae (16 spesies), Siganidae (13 spesies), Apogonidae (11 spesies), Lutjanidae (9 spesies), and famili lainnya (89 spesies). Ikan hias paling banyak ditemukan di P Cemara Besar (64 sp) dan paling sedikit di P Kumbang (39 sp) namun banyak jenis ikan di P Kumbang tidak ditemukan di lokasi lain. Jenis ikan Chaetodon octofasciatus yang ditemukan di seluruh lokasi pengamatan. Beberapa jenis ikan karang memiliki nilai ekonomis tinggi, di antaranya adalah Sunuk (Plectropomus sp.), Kerapu (Ephinepelus sp.), Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis), Napoleon (Cheilinus undulatus). Selain ikan, terdapat jenis lain yang bernilai ekonomis tinggi juga yaitu udang (lobster) dan teripang (holothuroida sp.)



Penyu

Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan konservasi yang memiliki perwakilan lima tipe ekosistem perairan dan daratan yang terdiri atas ekosistem terumbu karang, padang lamun, mangrove, hutan pantai dan hutan dataran rendah. Kawasan ini juga merupakan habitat berbagai jenis fauna yang diantaranya adalah penyu hijau dan penyu sisik.

Upaya konservasi dan pengelolaan penyu di dalam kawasan Taman Nasonal Karimunjawa telah dilaksanakan secara berkelanjutan yang dimulai dengan upaya identifikasi tempat pendaratan penyu hingga saat ini menginjak pada upaya penetasan semi alami. Hasil kegiatan identifikasi dan inventarisasi penyu (2003) menunjukkan bahwa penyu mendarat hampir di seluruh pulau di wilayah kepulauan Karimunjawa termasuk di dalamnya adalah kawasan Taman Nasional Karimunjawa.

Jenis Penyu

Berdasarkan hasil survey, dari bekas jejak dan bekas sarang yang ditemukan, di Karimunjawa terdapat 2 jenis penyu yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).

Habitat Peneluran

Habitat peneluran merupakan pantai daratan yang digunakan penyu untuk meletakkan telurnya dan kemudian kembali ke laut. Lokasi peneluran berdekatan dengan habitat perairannya. Walaupun penyu memiliki wilayah jelajah yang sangat luas, ketika musim kawin, penyu akan mendekati pantai peneluran.

Taman Nasional Karimunjawa merupakan gugusan pulau-pulau kecil dan memiliki ekosistem terumbu karang, berpotensi sebagai habitat penyu. Hampir seluruh pulau, 22 pulau dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa merupakan habitat peneluran penyu. Lokasi monitoring adalah pulau-pulau dalam wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional II karimunjawa, yaitu Pulau Karimunjawa, Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil, Pulau Cemara Besar, Pulau Cemara Kecil, Pulau Krakal Besar, Pulau Krakal Kecil, Pulau Geleang, Pulau Burung dan Pulau Menyawakan.

Penyu memilih pantai yang tidak terlalu curam, kesukaan penyu pada daerah yang landai, kemiringan dengan kisaran antara 10 – 100, berhubungan dengan keinginan penyu untuk melewati daerah di atas batas pasang surut (Sunandar, 1998). Menurut Wicaksono (1999) dalam Sumaryati (2001) penyu membuat lubang untuk bertelur yang tidak tercapai air laut sehingga suhu dan kelembabannya akan terjaga dengan baik. Telur yang terkena air laut akan menyebabkan kerusakan sehingga gagal menetas.

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dari Tahun 2003 – 2009 (sampai dengan Mei 2009) (Grafik 2), jumlah sarang yang ditemukan cenderung meningkat.

Musim Bertelur

Penyu, satu kali musim bertelur bisa 3 – 4 kali bertelur dengan jarak waktu antara 14 – 25 hari. Setelah musim bertelur berakhir, penyu akan bertelur lagi sekitar 2 - 3 tahun kemudian. Seteleh bertelur penyu akan menjelajahi samudera dan ketika musim kawin akan kembali mendekati pantai peneluran.

Berdasarkan data yang tersaji dalam Grafik 2 di bawah, terlihat bahwa sarang penyu banyak ditemukan pada bulan Desember sampai Maret. Hal ini bisa dikatakan bahwa musim penyu bertelur di Kepulauan Karimunjawa adalah Desember samapai bulan Maret, dan puncak musim bertelur adalah bulan Januari. Pada bulan April, temuan sarang masih cukup banyak tapi sudah mengalami penurunan. Hal ini akan berlangsung terus sampai bulan Nopember. Pada bulan Desember akan kembali meningkat.

Upaya Pelestarian

Upaya pelestarian penyu perlu sedini mungkin dilakukan, karena untuk saat sekarang pantai peneluran penyu mengalami kerusakan yang sangat parah. Hal ini mengakibatkan populasi penyu di alam dari hari ke hari mengalami penurunan, bahkan semua jenis penyu masuk dalam kategori punah.

Upaya pelestarian yang dilakukan Balai Taman Nasional Karimunjawa adalah penetasan semi alami. Lokasi penetasan semi alami ini berada di Pulau Menjangan Besar masuk dalam wilayah kerja seksi pengelolaan taman nasional wilayah II Karimunjawa. Penetasan penetasan semi alami, telur diletakkan dalam suatu wadah (ember bertutup) yang diisi dengan pasir sampai penuh dan dibuat lubang yang menyerupai sarang. Telur dari sarang alami dipindahkan ke dalam ember berpasir. Kemudian telur dalam ember dibawa ke lokasi penetasan semi alami dan selanjutnya ditanam. Keuntungan dari penetasan buatan adalah terbebas dari predator dan suhu dan kelembaban sarang bisa diatur dengan cara membuka dan menutup tutup ember. Kelemahan penetasan buatan ini adalah pada waktu pemindahan sarang buatan (ember berpasir), terjadi goncangan yang bisa mengakibatkan telur penyu tidak menetas.

Setelah telur menetas, tukik – tukik (anak penyu) dilepaskan kembali ke laut. Atraksi ini sangat menarik bagi wisatawan baik mancanegara maupun domestik. Hal ini dijadikan sebagai sarana wisata pendidikan. Diharapkan dengan melepaskan tukik kembali ke laut bisa menanamkan jiwa kepedulian terhadap upaya pelestarian penyu




Mamalia

Taman Nasional Karimunjawa sebagai taman nasional laut, wilayahnya meliputi wilayah perairan dan daratan. Keanekaragaman flora fauna maupun bentang alam yang terdapat di Taman Nasional Karimunjawa menarik sebagai sarana pendidikan/penelitian dan berpotensi dikembangkan sebagai objek wisata.

Fauna yang terdapat di Taman Nasional Karimunjawa adalah mamalia darat. Berdasarkan hasil inventarisasi mamalia darat di Pulau Karimunjawa tahun 2006 pada beberapa blok pengamatan ditemukan 6 jenis mamalia darat, yaitu rusa (Cervus timorensis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis karimoendjawae), kalong besar (Pteropus vampyrus), tikus pohon ekor polos (Niviventer cremoriventer), landak (Hystrix javanica) dan musang rase (Viverricula indica ).

Menurut Van Bemmel (1949) dalam Schroder (1976) rusa yang ditemukan di Pulau Karimunjawa termasuk dalam jenis rusa jawa (Cervus timorensis laronesiotes). Berdasarkan informasi penduduk lokal, rusa di Kepulauan Karimunjawa terdapat 3 jenis, yaitu rusa jawa (Cervus timorensis), rusa kendit (bagian perut terdapat selempang berwarna putih), merupakan rusa yang ukurannya paling besar dan rusa wulung merupakan rusa yang ukurannya paling kecil. Selain itu rusa yang ditemukan selama pengamatan berbeda-beda dari segi warna tubuhnya, mulai dari coklat muda sampai coklat tua kemerahan. Untuk mengetahui jenis rusa yang terdapat di Pulau Karimunjawa diperlukan penelitian lebih lanjut.

Penyebaran rusa jawa di Pulau Karimunjawa berdasarkan hasil inventarisasi mamalia darat tahun 2005 dan 2006 meliputi Legon Moto-Legon Skoci, Kemloko-Cikmas, Nyamplungan, Alang-alang, Legon Goprak dan Jati Kerep. Berdasarkan informasi masyarakat rusa juga sering dijumpai di Pancuran Belakang, tetapi selama kegiatan inventarisasi, tidak ditemukan tanda-tanda adanya rusa. Hal ini dimungkinkan karena tempat ini telah berubah fungsi menjadi resort sehingga habitat rusa tergeser.

Apabila diperhatikan lokasi ditemukannya rusa baik secara langsung maupun tidak langsung terdapat sumber air dan tersedianya tanaman yang disukai rusa, antara lain jambu-jambuan (Syzygium sp.), rokok-rokok (Melastoma affine D.Don), klinu (Grewia paniculata), singkong (Manihot utilisima), jambu Mete (Anacardium ocidentale), alang-alang dan ubi Jalar. Jenis-jenis tersebut, banyak dimanfaatkan sebagai pakan terutama pada pucuk daun muda. Selain pucuk-pucuk daun, rusa juga menyukai sayuran (kacang panjang, kangkung, buncis, ketimun, sawi, wortel, daun singkong), konsentrat (umbi singkong dan ubi jalar) dan buah-buahan (jambu mete, pisang, jambu air kulit jeruk) dan pellet (Perum Perhutani, 1997).

Salah satu mamalia darat yang menjadi ciri khas dan satwa endemik Pulau Karimunjawa adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis karimoenjdawae). Yang membedakan monyet ekor panjang Pulau Karimunjawa dengan monyet ekor panjang di tempat lain adalah bagian kepalanya terdapat jambul yang berwarna hitam dan berbentuk lingkaran.

Penyebaran monyet ekor panjang di Pulau Karimunjawa meliputi blok pengamatan Legon Moto-Legon Skoci, Kemloko dan Legon Lele. Pada blok-blok pengamatan ini dijumpai monyet ekor panjang secara langsung di daerah pegunungan, di tepi-tepi tebing, di lembah dan kawasan hutan yang memiliki kerapatan relatif tinggi dan terdapat jenis-jenis pohon berbuah. Jenis pohon yang menjadi sumber pakan bagi monyet ekor panjang, antara lain jambon (Syzygium sp.), katesan (Aeschymene indica), jengkol (Pytecolobium dulce), jambu mete (Anacardium ocidentale), jambu air (Syzygium aquasetifolia), sentul/kecapi (Sandoricum koetjape), gondang (Ficus variegate).

Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia yang dapat terbang. Sayapnya terbuat dari kulit yang melekat pada sisi-sisi tubuh dan didukung oleh tulang-tulang jari yang panjang pada tiap tangannya (Jhonson, 2005). Seperti jenis kelelawar lainnya, kalong besar tidur pada siang hari dan berburu saat malam hari. Kalong besar mulai keluar dari sarangnya sekitar pukul 18.00 WIB ketika matahari mulai tenggelam dan langit menjadi gelap. Kalong besar hidup dalam koloni besar (Payne dkk, 2000).

Kalong besar akan menghampiri atau berkumpul pada pohon yang sebelumnya sudah terdapat kalong besar lainnya. Mereka satu per satu akan datang dan berkumpul pada pohon tersebut. Di pohon tersebut mereka melakukan aktivitas makan, istirahat, bermain dan kawin. Kalong besar menyukai dahan-dahan pohon yang terbuka, pepohonan yang berbunga dan berbuah. Jenis pohon yang disukai kalong besar antara lain pohon jambu mete (Anacardium ocidentale), gondang (Ficus variegata) dan sentul/kecapi (Sandoricum koetjape).

Jenis mamalia darat lainnya yang ditemukan adalah tikus pohon ekor polos (Niviventer cremoriventer). Tikus pohon ekor polos termasuk satwa nokturnal dan aktif di antara pepohonan kecil sampai paling sedikit 5 m di atas tanah di antara tumbuhan pemanjat yang lebat dan di atas tanah.

Landak (Hystrix javanica) salah satu mamalia darat yang dijumpai di Pulau Karimunjawa. Landak tergolong satwa langka yang dilindungi. Yang menjadi ciri khas landak adalah bagian tubuhnya memiliki bulu yang menyerupai duri yang sangat runcing.

Landak (Hystrix javanica) umumnya berwarna hitam, rambut jarumnya panjang putih berbelang hitam kearah ujungnya, rambut jarum pendek pada bagian tubuh sebagian besar kehitaman beberapa diantaranya mempunyai pangkal dan ujung lebih pucat. Menurut Payne dkk, 2000 Hystrix javanica mirip dengan Hystrix brachyura tetapi rambut jarum keras umumnya lebih ramping dan tidak terdapat jambul. Ujung rambut jarum ekor putih dan lebih pendek. Hystrix javanica merupakan satu-satunya jenis landak yang ada di Jawa dan Nusa Tenggara.

Musang rase (Viverricula indica) memiliki bulu berwarna abu-abu atau coklat pucat, ada deretan bintik di sepanjang punggung dan sisi perut dan jambul dorsal hitam tidak ada. Ekor memiliki 6-9 belang hitam sempurna dan ujungnya pucat (Payne dkk, 2000).Musang rase memiliki sinar mata merah tua ketika terkena sorot lampu. Musang rase termasuk satwa nokturnal dan umumnya terestrial, tetapi kadang memanjat ke atas pohon. Makanannya meliputi berbagai invertebrata kecil yang diperoleh dari lantai hutan. Musang rase menyukai semak-semak untuk tempat bersembunyi dan sering dijumpai di dekat pemukiman atau kebun penduduk pada malam hari untuk memakan sisa-sisa makanan.




“Karimunjawa MVTour & Travel ”
www.mvtourtravel.co.cc
www.mvtourtravel.tk
Em@il : mvtourtravel@gmail.com
Em@il : pesonakarimunjawa@gmail.com
T. : 0897-5112005 / M. : 0821-222-55-771
The Best Partner For Your Journey !!


Dapatkan SOUVENIR KHUSUS (MUG / T-Shirt / PAYUNG TIAP PESERTA) untuk pemesanan PAKET ROMBONGAN DIATAS 20 PESERTA / PAKET STUDY TOUR / PAKET KARYAWAN / PAKET HONEYMOON(PACKPLUS) / PAKET PRA-WED (PACKPLUS) / PAKET WEDDING